Bunda Cinta Parenting Centre | Melayani Anda ..

Mari kita bahu membahu ciptakan kualitas generasi penerus dan diri kita...

Pendidikan adalah Investasi

Siapa tidak pernah menanam, maka jangan pernah harapkan panen.

Mendidik dan Melatih

Pendidikan memang berat namun hasilnya paten dan bertahan lama. Membekali pendidikan menjamin masa depan yang lebih baik...

Mari Dorong Kesuksesan Setiap Diri

Bahagia menjadi bagian kesuksesan siapapun adalah jiwa besar. Kebesaran jiwa akan menghasilkan capaian-capaian besar berikutnya...

Setia Kepada Setiap Proses

Sukses = Suka Proses. Barangsiapa berproses dan mencintai prosesnya, maka ia akan makin dekat dengan capaian impiannya..

Friday, July 4, 2014

Multiple Intelligence dalam Tinjauan Psikologis

Oleh. Shinta, S.Pd, M.Si, MA

Alhamdulillahhirobbil‘alamin, Hallo apa kabar semua anak-anak di Indonesia? Semoga semua kabar baik dan kesehatan serta kebahagiaan menyertai kita semua. Tanpa terasa kita sudah melewati satu semester lagi, hidup terasa amatlah cepat berlalu ya, sayang sekali jika kita melewatkan waktu begitu saja dengan sia-sia. Dalam Nafiri edisi kali ini Bunda Cinta akan mengulas tentangMultiple Intelligences dalam tinjauan Psikologis. Harapan Bunda Cinta adalah agar kita semua baik para Guru, Orangtua Siswa dan Siswa semuanya memiliki pemahaman bahwa tidak ada anak yang dilahirkan bodoh, setiap manusia InsyaAllah memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Ayukk kita sama-sama menemukan kelebihan kita….
Sebelum kita membahas tentang Multiple Intelligence, Bunda Cinta akan cerita dulu tentang Otak. Otak adalah salahsatu hal mendasar yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Hayooo siapa di antara kita yang masih belum mau mengoptimalkan fungsi kerja otak kita. Mari kita terus belajar dan berlatih ya anak-anak, juga bagi para Orangtua dan Guru, otak harus senantiasa distimulasi berapapun usia kita, demi agar kita bisa mempertanggungjawabkan kepada Allah karena Allah telah memberi karunia otak kepada kita.
Robert Ornstein dan Richard F. Thompson dalam penelitiannya berjudul The Amazing Brain mengatakan bahwa ukuran otak manusia hanya sebesar buah anggur. Beratnya kira-kira sama dengan berat sebutir kol. Otak mengatur seluruh fungsi tubuh, serta  mengendalikan sebagian besar perilaku dasar kita. Otak bertanggung jawab atas semua kegiatan kita, harapan-harapan kita, pikiran kita, emosi kita dan kepribadian kita.  Jadi sebagian besar manusia di bumi ini memiliki ukuran otak yang kuranglebih sama, yang tidak sama adalah kemauan dan usaha manusia-manusia tersebut dalam menstimulasi otak, dalam mengaktifkan sambungan-sambungan neuronnya. Ada kira-kira seratus milyar neuron atau sel syaraf di dalam otak. Seratus milyar sel syaraf dalam otak itu tidak ada gunanya jika tidak saling terkoneksi satu sama lain. Satu neuron dapat berhubungan dengan seribu sampai sepuluh ribu sel yang lain. Kecerdasan manusia terletak pada hubungan-hubungan diantara neuron-neuron itu. Dan dalam satu otak manusia, jumlah kemungkinan interkoneksi (saling tersambung) diantara sel-sel ini sebenarnya lebih besar dari jumlah atom di alam semesta.
Penelitian tersebut ternyata juga menunjukkan adanya perbedaan fungsi dan tugas antara otak kanan dan kiri. Otak kiri memiliki fungsi-fungsi untuk berfikir secara verbal, pemahaman logis, faktual dan analisis. Sementara itu, otak bagian kanan memiliki fungsi yang berkaitan dengan persepsi ruang, musik, kreativitas dan emosi. Otak kanan akan bekerja ketika kita membuat peta atau memberikan petunjuk arah. Otak kanan hanya menghasilkan kata-kata yang belum sempurna, tetapi memberikan muatan emosi dalam bahasa atau kalimat yang disampaikan. Tanpa bantuan otak kanan, kita akan mampu membaca kata “pelangi” tetapi tidak mampu membayangkan seperti apakah bentuk dari ”pelangi” itu.
Kapasitas otak kiri dan kanan inilah yang memungkinkan setiap orang memiliki potensi yang bagus dalam berbagai bidang, sehingga penampilan seseorang dalam setiap bidang atau manifestasi potensi merupakan perkara yang berbeda terkait dengan stimulasinya. Itu pula sebabnya, jika kemudian dikenal 7, 8, 9 atau bahkan 10 jenis kecerdasan atau multiple intelligencesebagaimana dikemukakan Howard Gardner, maka dasarnya adalah kapasitas otak yang berkembang sejak dalam kandungan tersebut.
Multiple intelligence (kecerdasan majemuk) adalah sebuah alternatif dalam rangka menembus suatu kebekuan. Mari kita yakini bersama bahwa setiap orang adalah cerdas dalam bidang tertentu. Karena setiap orang adalah cerdas maka tidak ada kebekuan dan tidak stagnan. Setiap orang pasti punya bakat istimewa. Kecerdasan manusia, pada awalnya hanya diukur berdasarkan kemampuan matematika dan bahasa. Alat-alat ukur untuk mengetahui kecerdasan seseorang, banyak berisi aitem-aitem yang menggambarkan kemampuan matematika dan bahasa. Tetapi ilmu pengetahuan terus berkembang. Dalam dunia psikologi modern sudah tidak lagi memandang bahwa anak cerdas adalah anak yang memiliki nilai matematika terbaik. Dunia psikologi dan pendidikan memberikan ruang yang lebih terbuka pada betapa bervariasinya bidang-bidang kecerdasan anak. Semoga dalam Nafiri edisi yang lain, Bunda Cinta bisa membahas hal ini kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum di sekolah.
Prof. Howard Gardner dari Universitas Harvard pada tahun 1983 telah membuktikan bahwa kecerdasan terdiri dari delapan potensi kecerdasan, yaitu : Kecerdasan Intelektual (IQ) terdiri dari Kecerdasan Linguistik (Berbahasa) dan Kecerdasan Logika Matematika (Konsep Berhitung dan Berfikir Analisis), Kecerdasan Emosional (EQ) terdiri dari Kecerdasan Intrapersonal (kemampuan mengelola dirinya dengan baik) dan Kecerdasan Interpersonal (kecerdasan dalam menjalin hubungan dan koneksi dengan orang-orang di sekitarnya), Kecerdasan Kreativitas (CQ) yang meliputi Kecerdasan Kinestetik (keahlian dalam Gerak dan Olah Tubuh) dan Kecerdasan Visual Ruang (Kecerdasan dalam menuangkan gagasan dalam bentuk gambar dan persepsi dalam berbagai dimensi), dan terakhir adalah berupa Kecerdasan Adversitas (AQ) yang meliputi Kecerdasan Musikal (Kecerdasan dalam menikmati dan mengolah musikalitas seseorang) dan Kecerdasan Naturalis (Kecerdasan dalam memaknai hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam era teknologi sekarang ini, semakin ditemukan lagi jenis-jenis kecerdasan yang lainnya.
Dari berbagai jenis Multiple Intelligences tersebut, menunjukkan bahwa setiap orang bisa saja memiliki keunggulan dalam bidang yang berbeda-beda. Orangtua yang cerdas adalah orangtua yang sepanjang hari tidak terus menerus sibuk membahas kekurangan anak, tetapi bagaimana usaha orangtua untuk bisa menemukan dan mengeksplorasi kelebihan pada anaknya. Sebagai orangtua, kita tidak perlu berharap muluk-muluk bahwa anak kita harus unggul dalam semua bidang. Jika keinginan itu ada, cobalah kita segera cepat-cepat melihat cermin dan berkaca apakah diri kita sendiri ini unggul dalam banyak bidang.  Jangan-jangan keinginan kita dalam ’memaksa’ anak itu adalah akibat keinginan-keinginan masa lalu kita yang tak tercapai.
Setiap manusia biasanya diberi lebih dari satu macam keunggulan menurut teori Multiple Intelligences tersebut. Mari kita sama-sama menggali kelebihan anak kita. Bisa saja seorang anak memiliki kemampuan matematika yang rendah, tetapi dia memliki kemampuan bahasa yang baik dan juga sangat mudah bergaul serta sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan alam. Artinya anak tersebut kecerdasannya yang dominan adalah kecerdasan Linguistik, Interpersonal dan Naturalis. Nah, tugas orangtua dan guru adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak tersebut untuk semakin menemukan dirinya, kita support dia untuk menjadi Ketua kelompok dalam kegiatan Pramuka yang sering melakukan kemah atau lintas alam.
Kasus lain misalnya anak yang sangat hobi melukis dan sering menunjukkan hasil lukisannya kepada orang lain. Berarti anak tersebut memiliki kecerdasan Visual Ruang dan kecerdasan Intrapersonal. Mari kita dorong dia untuk sering mengikuti acara-acara pameran atau lomba melukis.
Nah setelah memahami teori ini, tentunya para orangtua sudah bisa sedikit bernafas lega bahwa ternyata di dalam diri anaknya terdapat banyak kelebihan. Tidak perlu khawatir berlebihan ketika seorang anak tidak pernah juara satu di kelas, tetapi dia sangat PD dan memiliki teman yang banyak, apalagi jika ditambah dengan predikat ’tidak bisa diam’ alias selalu bergerak. Artinya anak tersebut unggul dalam kecerdasan Intrapersonal, Interpersonal, dan Kinestetik. Mulai dari sekarang ayo sama-sama belajar jadi orangtua yang cerdas dengan tidak selalu melihat ’hijaunya rumput tetangga’ sehingga lupa menghijaukan rumput kita sendiri. Artinya para orangtua seringsekali membahas kelebihan anak-anak orang lain tetapi lupa memberi perhatian pada kelebihan anaknya.
Bagi semua anak-anak di Indonesia, ayo teruslah mengeksplorasi diri, tidak perlu minder atau malu apapun potensi kalian, berjanjilah untuk jadi kebanggan Ayah dan Bunda, terus rajin belajar ya Nak, nikmati hari-hari indahmu dalam menemukan kecerdasan dirimu. Kami para orangtua terus tak henti mengirimkan doa buat kesuksesan kalian. Salam Orangtua Smart Untuk Anak-anak yang Hebat. Wassalam.


Penulis adalah Alumni Pascasarjana Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
dan Direktur di BundaCinta Parenting Centre

Thursday, July 25, 2013

Mari Jadi AyahBunda Hebat bagi Anak Luarbiasa



Setiap Anak adalah Juara
Oleh : Shinta, S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda Cinta)

Suatu siang di sebuah arena perlombaan tentang kegemaran membaca, dikemas dalam suatu event “Raja dan Ratu Buku Tingkat Propinsi” …….., nama sebuah sekolah disebut beberapa kali dalam setiap kategori, hingga akhirnya …..”dan juara umum diraih oleh…. Sekolah Dasar Bla bla bla…. Yogyakarta…” Seketika ruangan membahana dengan gemuruh tepuk tangan ungkapan syukur dan kebahagiaan.
            Alhamdulillahirobbil’alaminnn…., segala puji bagi Allah yang telah banyak sekali memberikan banyak karunia kepada kita semua. Syukur tak terhingga kepada Allah yang senantiasa menguatkan anak-anak kami dalam setiap lomba, baik mewakili pribadi maupun mewakili sekolah. Jangankan sebagai peserta perlombaan, sebagai supporter ataupun penonton ataupun hanya mendengar berita tentang kemenangan sekolah kitapun rasanya sudah sangat membanggakan. Tetapi dalam setiap perlombaan, selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Itulah permainan, harus ada yang dimenangkan dan harus ada yang dikalahkan pula. Nah dalam proses belajar, setiap anak adalah juara, apakah maksudnya?? Mari kita bahas bersama-sama yukkk….
            Setiap anak manusia lahir sebagai pemenang. Benih janin yang tumbuh dan berkembang dalam rahim Ibu adalah dari bibit terbaik, yang berhasil mengalahkan ribuan benih lain dari sel seorang pria, lalu bertemu dengan sel telur seorang wanita. Jadi sejak di dalam kandungan pun, kita ini sudah terbiasa berkompetisi, lalu lahir sebagai bibit unggul yang punya banyak potensi.
            Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, memiliki banyak kelebihan, di antaranya kemampuan berfikir (ulil albab). Tinggal bagaimana setiap orang saja lah berusaha mengoptimalkan setiap potensinya. Allah sungguh Maha Adil. Ketika seorang manusia diberi cobaan memiliki kekurangan di salah satu panca indera, maka Allah melebihkan potensi indera nya yang lain. Misalnya, seorang yang buta artinya tidak dapat melihat. Tetapi Allah melebihkan padanya pendengaran yang kuat, atau melebihkan tajamnya mata hati mereka sehingga mampu merasakan warna-warni sekelilingnya.
            Ayo segeralah kita bercermin, untuk segera menghitung-hitung, berapa nikmat Allah begitu lengkapnya yang sudah diberikan kepada kita, tetapi mengapa sampai sekarang belum atau tidak digunakan secara optimal. Tengoklah para juara-juara di setiap perlombaan, mereka punya kaki, tangan, mata, telinga, yang jumlahnya sama dengan yang kita miliki, tetapi mengapa diri ini masih saja santai tak melakukan apa-apa,,,,
            Dalam psikologi, dikenal adanya Teori Hierarki Kebutuhan, yang lebih dikenal dengan teori Maslow. Teori Maslow menyatakan kebutuhan manusia yang paling rendah adalah kebutuhan biologis seperti makan dan minum, sedangkan kebutuhan yang paling tinggi adalah kebutuhan untuk mendapat penghargaan dan mengaktualisasikan diri. Salah satu aspek dalam penghargaan dan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk berprestasi. Kaitannya dengan anak-anak kita di sekolah, tugas orangtua dan guru lah yang senantiasa tak bosan untuk memberikan motivasi dalam berprestasi.
            Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi Ekstrinsik.
1.      Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.      Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Grafik motivasi berprestasi setiap anak naik turun dengan dinamika yang berbeda-beda. Bagi anak yang sudah matang, grafiknya lebih stabil, tetapi bagi anak yang belum matang kondisi psikologisnya, maka diperlukan peran lebih dari orangtua dan guru untuk senantiasa memotivasinya. Jangankan anak-anak yang memang masih muda belia, bahkan para orang dewasa pun sering sekali memerlukan motivasi dari oranglain untuk senantiasa semangat menghadapi tantangan.
Ayolah para orangtua, teruslah semangat menjadi penyemangat anak-anak. Seyogyanya, tak ada kata bosan dalam terus memotivasi anak. Sejatinya, tak ada anak yang dilahirkan bodoh, hanya kitalah para orangtua yang masih belum cerdas dalam menemukan kelebihan anak-anak kita. Hargailah setiap anak yang telah berkompetisi melawan ego dan rasa tidak percaya dirinya sendiri, melawan rasa malu dan sejenisnya. Dan ketika mereka berhasil mengalahkan rasa malas untuk mau bangkit, maka saat itulah mereka telah menjadi pemenang.
Buat anak-anak, tak ada alasan untuk tidak maju ya, tak ada alasan untuk tidak berprestasi, lakukanlah yang terbaik dari setiap diri kalian, tak ada alasan untuk minder. Kalian bisa terus bersaing dan berkompetisi dengan seluruh teman-teman dari negri ini, bahkan di luar negri sekalipun, tak perlu pusing memikirkan peringkat atau juara berapa yang akan diraih, tapi memaknai indahnya proses perjuangan kalian itulah yang lebih utama. Kalian tentu akan memanen dari apa-apa yang kalian pernah tanam. Percayalah Nak, kami para orangtua dan juga guru, sangat bangga pada kalian semua, karena setiap dari kalian adalah….Juara…..

Penulis adalah Alumni Magister Psikologi
Universitas Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda Cinta Parenting Centre
(www.bundacinta.com)

Tuesday, November 13, 2012

Refleksi Hari Pahlawan 10/11/12


Jiwa Kepahlawanan Pada Anak, Tanggungjawab Siapa ?
Oleh : Shinta. S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda Cinta) *

“Sudirman boleh sakit, tapi Panglima tak boleh sakit”, demikian kalimat pertama yang terucap darinya, seorang Ibu yang sangat lembut, dengan mata berkaca-kaca beliau menceritakan semangat, sifat dan perjuangan Panglima Besar Jendral Sudirman semasa hidupnya. Ya, beliau adalah Ibu Tejaningsih, salah seorang cucu dari Pangsar Sudirman, saya mengenalnya ketika bersama-sama mengisi suatu seminar bertema “Pentingnya Menanamkan Jiwa Kepahlawanan Pada Anak”. Ayah beliau adalah putera pertama Sang Jendral Besar. Menurutnya, cerita kesederhanaan dan kebesaran jiwa Pak Dirman bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dan guru yang ingin menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak. Pangsar Sudirman adalah pribadi yang sangat bersahaja dalam mendidik putra-putrinya.
Jiwa kepahlawanan seyogyanya bisa dimiliki oleh setiap orang, bisa ditumbuhkan pada diri seorang anak, bahkan ketika usianya masih dini. tidak hanya sebatas pada makna sempit seorang ‘pahlawan’. Mungkin sebagian besar anak-anak mengira bahwa pahlawan adalah beliau-beliau yang mendapatkan kesempatan untuk membela kemerdekaan bangsa ini. Padahal, setiap orang adalah pahlawan, minimal bagi diri dan kehidupannya sendiri. Dalam makna yang lebih luas, jiwa kepahlawanan dapat diasosiasikan sebagai sebuah rasa atau sikap yang menunjukkan daya juang yang tinggi. Tumbuh bersamanya adalah sikap tangguh, disiplin, mandiri, tanggungjawab, bangga dan cinta tanah air, saling menghormati, empati pada sesama, giat bekerja, rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya, dan sebagainya.
            Menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada anak adalah tanggungjawab bersama antara semuap pihak, baik dari orangtua, guru, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Diumpamakan anak adalah seperti sebuah spon atau busa, yang akan meresap informasi disekitar dengan cepat dan sesuai daya tampung. Satu hal yang menjadi syarat untuk menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada diri anak adalah tumbuhkan dulu rasa tersebut pada diri kita sebagai orang dewasa di sekeliling anak. Bagaimana mungkin kita akan menolong oranglain yang akan tenggelam kalau diri kita ini tak mampu berenang. Filosofinya adalah bagaimana mungkin kita berharap memiliki anak yang berjiwa pahlawan sementara nilai-nilai tersebut tak ada pada diri kita.
            Jiwa kepahlawanan dapat diasumsikan juga memiliki rasa nasionalisme. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh orangtua dan guru dalam menanamkan nilai nasionalisme, misalnya sejak dini mengenalkan tentang status kebangsaan atau warganegara, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, mencintai budaya-budaya bangsa dan sejenisnya. Termasuk di dalamnya dapat melalui pengenalan lagu-lagu daerah atau dongeng cerita rakyat, tarian, film, acara televisi dan sejenisnya. Sudah sangat baik belakangan ini telah hadir film untuk anak-anak bertema nasionalisme, tapi rasanya jumlahnya masih sangat jauh di bawah derasnya gempuran film atau komik dari luar negeri. Ketika anak-anak ditanya tentang tokoh heroik idolanya, bisa dipastikan akan muncul nama-nama tokoh dari luar Indonesia dibandingkan tokoh-tokoh negeri ini. Nasionalisme pada anak tidak hanya sebatas pada hal-hal seremonial, tetapi lebih kepada pembiasaan hidup sehari-hari sehingga dapat merasuk ke dalam hati dan jiwa.
            Lalu dimanakah wajah ini akan kita sembunyikan, jika setiap hari yang dilihat anak di rumah adalah contoh tingkahlaku yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme atau kepahlawanan, lagu-lagu dengan syair berbahasa asing, demam tarian negara tetangga, belum lagi dengan gaya dandanan dan barang-barang bermerk asing yang dipakai para orangtua. Ketika berharap media dapat menolong anak-anak kita, adakah berita tentang indahnya hidup saling menolong atau makna Bhinneka Tunggal Ika, jika yang didengar dan dilihat anak-anak adalah berita tentang tawuran, pertikaian antar suku, antar agama, korupsi, saling cerca antar partai politik, dan sejenisnya. Bagaimana membentuk jiwa-jiwa yang tangguh, jika para Ayah, Bunda atau Guru mudah menyerah bahkan berputus asa, atau di antaranya ada yang berkata sedang galau atau stress. Bagaimana mengajarkan anak memiliki empati dengan sesama jika para orangtua sibuk sendiri dengan gadget-nya. Sungguh, tak ada cara yang lebih efektif dalam menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak, selain menjadikan diri kita sebagai suri tauladan yang baik.

*Penulis adalah alumni Magister Psikologi  
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Direktur Bunda Cinta Parenting Centre

Monday, July 30, 2012

Memasuki Tahun Ajaran Baru...


Ayo  Sekolah  Dengan  Happy…
-----------------------------------------------------------------
Oleh : Shinta, S.Pd., M.Si., M.A. (Bunda Cinta)

“Whuaaa besok sudah hari senin, harus sekolah lagi deh..”
“Hmmmm capek ya harus sekolah terus, aku sudah bosan sekolah…”
“Mama, hari ini aku ngga sekolah yaaa, perutku sakit, kepalaku pusing…”

Hmmm contoh-contoh kalimat di atas mungkin sering sekali kita dengar dari mulut anak-anak kita atau anak-anak usia sekolah pada umumnya. Ada satu makna yang dapat kita tangkap dari berbagai macam kalimat tersebut, bahwa sebagian besar anak-anak kita ternyata tidak senang dengan ‘sekolah’, karena menganggap kegiatan sekolah merupakan suatu beban yang memberatkan, sehingga anak-anak sering mencari seribu satu alasan agar bisa terhindar dari beban-beban tersebut.

‘Sekolah’ berasal dari kata schoole atau skolai (bahasa yunani) yang berarti ‘taman’. Karena itulah sekolah di Indonesia pada zaman Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Taman Siswa. Jika kita membayangkan sebuah taman, tentu akan hadir sebuah pemandangan yang indah, penuh dengan bunga-bunga, rumput hijau, kupu-kupu, gemericik air, atau juga hembusan angin yang sejuk. Jika sedang berada di sebuah taman, tentunya serasa tak ingin pergi meninggalkan taman tersebut, ingin berada berlama-lama di dalamnya. Nah, tentunya begitulah suasana yang diharapkan oleh para pejuang pendidikan kita tentang makna dari sekolah (taman) tadi. Seyogyanya sekolah sebagai sebuah taman, anak-anak yang berada di sekolah semestinya semua memiliki rasa nyaman, senang, happy, dan ingin terus berlama-lama ada di dalamnya.

Lalu sudahkah sekolah anak-anak kita sekarang cukup layak jika disamakan dengan suasana sebuah taman..?? Jawabannya mungkin bervariasi, tetapi dari banyak kasus yang ditemui, dapatlah dianalisis sebuah fenomena sebagai berikut. Keberhasilan suatu proses pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain, diri siswa, orangtua / keluarga, lingkungan sekolah, dan system (kurikulum). Ketika kita tak punya kewenangan untuk turut serta dalam penentuan kebijakan pendidikan (alias menyusun kurikulum), maka tak perlu berkecilhati untuk tak bisa aktif dalam mewujudkan mimpi anak-anak sesuai harapan kita. Yang pertamakali harus dilakukan adalah merubah konsep diri pribadi setiap orangtua, yaitu cara pandang terhadap pendidikan seyogyanya dikembalikan ke dalam koridornya, yaitu bahwa sekolah sebenarnya adalah untuk mencari ilmu, tidak semata-mata hanya mencari nilai. Ketika sebagian besar orangtua tahu bahwa beban pendidikan anak-anaknya di sekolah tidaklah ringan, maka menjadi tidak bijaklah para orangtua ketika setiap hari justru menambah beban pada diri anak-anak, misalnya dengan memberikan standar / target yang tinggi terhadap pencapaian nilai anak-anak, atau memberikan tambahan les yang luar biasa banyaknya kepada anak-anak. Semestinya setiap orangtua tahu kapasitas dan kemampuan anaknya, tidak perlu memaksanya. Hal ini dapat tercapai jika terjadi komunikasi yang baik dan efektif antara anak dan orangtua. Dengan komunikasi yang baik, antara anak dan orangtua masing-masing bisa mengungkapkan pendapat dan keinginannya beserta alasan-alasannya, sehingga dapat dicari jalan tengah yang tidak ada unsur paksaan sama sekali. 

Jika orangtua sudah bisa cerdas menemukan cara atau trik dalam mengetahui kemauan dan kemampuan anaknya, maka seyogyanya anak-anak sudah tidak perlu lagi bosan menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja dari orangtuanya setiap pulang sekolah, misalnya:
Tadi dapat nilai berapa di sekolah?
Tadi ulangannya salah berapa?
Ayo ada PR apa untuk besok, sore ini ngga usah main….
dst pertanyaan-pertanyaan sejenis….

Happy atau gembira adalah kata kunci yang tak bisa ditawar lagi bagi anak yang ingin berhasil dalam pendidikannya. Ketika rasa happy tak tercapai, maka tak ada gunanya bicara lebih jauh tentang sekolah. Apalah artinya mendapat nilai sepuluh setiap hari, jika anak belum merasa happy, bahkan merasa tersiksa atau tertekan. Rasa happy juga bisa menjadi kunci pembuka bagi anak yang ingin meningkatkan kualitas dirinya. Selain memiliki nilai akademik yang baik, anak yang happy bisa melatih kecerdasan emosionalnya dengan saling ber-empati terhadap kesulitan oranglain, happy juga bisa menjadi landasan anak untuk selalu tampil berani, percaya diri dan mandiri.

Guru-guru harus cerdas menciptakan suasana senang dalam kelas...

Bagaimana anak-anak akan sekolah dengan happy dan ceria jika para orang dewasa di sekelilingnya (orangtua dan guru) justru berperan dalam menciptakan ketakutan dan kecemasan dalam menjalani hari-hari di sekolah. Dengan cara yang cerdas, seharusnya orangtua dan guru bisa mencari cara agar sekolah bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat disenangi anak-anak, diidam-idamkan dan selalu ingin sekolah. Sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak jika dibuat senyaman mungkin. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan nyaman dan hati yang gembira, maka tentu akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka marilah Ayah-Bunda, Bapak dan Ibu Guru ciptakan suasana belajar di rumah dan sekolah layaknya suasana bermain, agar anak-anak selalu senang belajar. 

Jika masih di SD saja anak-anak sudah memiliki rasa bosan, malas atau takut pada sekolah, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya diri anak-anak kita dalam menjalani sisa kewajiban langkahnya dalam menempuh pendidikan. Perlu waktu berapa tahun lagi untuk senantiasa menyiksa anak dengan standar-standar yang tinggi? Ingatlah bahwa SD merupakan dasar atau fondasi bagi diri anak-anak untuk mencintai sekolah atau dunia belajar.

Buat anak-anak, ayoooo sekolah dengan hati yang happy, gembira dan ceria. Betapa beruntungnya nasib kalian yang bisa berpadu nafas dengan bangku sekolah, sementara di luar sana ada belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuan anak hanya bisa bermimpi membayangkan manisnya suasana berbondong-bondong masuk ke kelas. Sekolah bukanlah sebuah beban, tapi sekolah sebuah proses yang bisa membantu dirimu untuk menjadi pribadi yang baik dalam banyak hal. Dengan sekolah, kalian di hari tua nanti bisa meraih apapun yang kalian inginkan. Nikmatilah segala tahapan yang dilewati sebagai untaian nada-nada merdu di hidupmu demi sebuah symphony yang indah. Melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam proses belajar itu wajar, yang penting semangat lagi untuk bangkit segera memperbaiki kesalahan. Yakinlah Nak, kami para Ayah-Bunda serta Bapak dan Ibu Guru adalah orang-orang yang senantiasa setia mendukungmu dan menjadi sandaran ketika tangan atau kaki kalian letih menahan beban. Ayooo sekolahhh dengan happy Nak…., berbahagialah dirimu menjadi bagian dari ‘taman’ kehidupan….

Penulis adalah Alumnus Magister Psikologi
Universitas Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda Cinta Parenting Centre
 (www.bundacinta.com)

Wednesday, February 22, 2012

Ayahku Ayah Terbaik Buatku



Setiap tanggal  22 Desember
Semua orang mengatakan “Selamat Hari Ibu” pada Ibu mereka
atau pada Ibu-ibu  lain yang bahkan tak dikenalnya…
Betapa kulihat semua orang sangat  menyayangi Ibunya,
Menyanjung jasa Ibu dan mengenangnya sebagai hal terindah
Memang sangat tak bisa dipungkiri bahwa jasa Ibu tak terukur oleh apapun

Lalu, mengapa seakan-akan ada sosok yang terlupakan
Yang jasanya tentu tak kalah besar dibanding Ibu
Siapakah Dia?
Ooowwhhhh, dia adalah Sosok Ayah…
Sosok paling perkasa di rumah yang siap melindungi dari bahaya apapun
Sosok paling bertanggungjawab atas segala hal yang dibutuhkan anak-anak
Sosok yang dalam diamnya menyimpan sejuta pusing ketika anak-anak berkata harus bayar sejumlah uang ke sekolah…
Sosok yang dalam tenangnya menyimpan sejuta kekalutan ketika tau ada masalah dengan anaknya
Adakah  hari Special buat Ayah???

Tapi buat apa ada Hari Ayah?
Bukankah  Ayahku tak seperti Ibu, yang cinta luar biasa padaku..,
Ibu mudah sekali menangis dan khawatir padaku
Ibu sangat sayang dan perhatian padaku…, hmmm nampaknya Ayah tak terlalu perhatian padaku…, apakah Ayah tak sayang padaku??
Hmm, ketahuilah anak-anakku…, Ayah mencoba menuangkannya lewat tulisan berikut ya…
Baca baik-baik Nak…

Ayah tak mudah menangis bukan karena ayah tak punya airmata Nak, tapi karena sebelum keluar dari mata Ayah, airmata ayah sudah berubah menjadi keringat dan peluh, yang kupertaruhkan setiap hari agar keringat itu bisa berubah menjadi uang, yang bisa kau gunakan untuk memenuhi semua kebutuhanmu…, keringatku bisa berubah menjadi nasi dan lauk-pauknya Nak, agar bisa kau makan setiaphari…

Ayah tak mudah mengeluarkan banyak kata-kata bukan karena ayah tak bisa ekspresif seperti Ibumu, tapi karena ayah harus banyak berfikir, agar dengan cara bagaimana ayah selalu bisa melindungi kalian anak-anakku dari segala bahaya yang mengancam, harus menaungimu sebisa mungkin agar tak ada oranglain yang bisa menginjak-injak kehormatan dan harga dirimu….

Tapi aku senang sama Ayah, karena Ayah tak cerewet seperti Ibu…
Eiittsss, sebentar dulu anakku, Ayah bukannya tak cerewet, tapi kata-kata di kepala Ayah berubah menjadi lengan yang kekar dan hangatnya dada Ayah, yang siap memeluk atau menggendongmu ketika suatu hari kau sakit misalnya. Ketahuilah sayang, bahwa Ayah dan Ibumu sudah berbagi peran, biarlah Ibumu yang banyak berkata-kata, karena memang itulah kekuatan Ibumu, biarlah Ayah lebih banyak diam, tapi Ayah selalu berfikir, untuk senantiasa memberikan penghidupan terbaik buatmu… ayah cukup sekali ber’dehem’ saja kuyakin anak-anakku sudah tau makna deheman Ayah, iya kan? Jadi, untuk apa lagi ayah banyak mengomel?? Lagipula, Ayah memang tak pandai memilih kata-kata, hehehe…

Ayah memang tak pandai mendongeng wahai jagoan kecilku, tapi Ayah siap jika sore nanti sepulang kerja kau mengajakku bermain badminton, atau menjadi lawanmu dalam sinetron “power-ranger” yang kau ciptakan. Ayah juga tak pandai memberi respon atas curhat-curhatmu wahai gadis remajaku, tapi Ayah siap menyeleksi siapa saja yang pantas untuk mendekatimu, hanya dengan satu tatapan mata Ayah…., dan juga bisa nanti Ayah tambah dengan sedikit kernyitan di dahi…

Suatu hari kau pernah bertanya mengapa ayah banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran dibanding mengobrol dengan anaknya?? Taukah kau anakku, bahwa sebenarnya dari koran itulah ayah mencari inspirasi sebanyak-banyaknya agar ayah bisa memberikan saran terbaik buatmu, dalam memilih langkah hidup terbaik bagi masa depanmu, karena Ayahlah orang pertama yang paling bangga nantinya dengan keberhasilanmu. Ayah sudah membayangkan betapa tak kuasa ayahmu ini menahan rasa haru ketika suatu hari nanti mendengar gurumu bercerita tentang dahsyatnya potensimu, atau melihat betapa kau memiliki banyak teman dan dirindukan teman-temanmu, atau menyaksikanmu menjadi top-scorer ketika bertanding membela klub sepakbolamu, atau menyaksikanmu memberi pidato saat wisudamu, atau mengabari ayah tentang kelahiran anakmu….

Ayah tak perlu kau buatkan puisi
Ayah tak perlu kau beri bunga
seperti ketika kau rayakan Hari Ibu dengan Ibumu
perlakukanlah Ibumu dengan istimewa bukan hanya di hari Ibu ya Nak
sepanjang waktu Ibumu adalah istimewa buatmu
begitupun Ayahmu ini
bagi Ayah,  setiap hari adalah Hari Ayah
hari-hari betapa seorang Ayah mempertaruhkan segalanya demi anak-anaknya
segenap jiwa dan ragaku siap mengantarkanmu Nak menjemput impian terindahmu
bisa kau bayangkan betapa sulitnya Ayahmu ini akan membendung airmatanya
ketika suatu hari mendengar kau bercerita pada temanmu bahwa ……
Ayahku  adalah Ayah Terbaik buatku, Ayahku adalah Ayah Juara….
Bagaimana dengan Ayahmu??

Oleh : Bunda Shinta, 28 Desember 2011
Salut buat para Ayah di seluruh dunia atas pengorbanan dan cintanya….