Bunda Cinta Parenting Centre | Melayani Anda ..

Mari kita bahu membahu ciptakan kualitas generasi penerus dan diri kita...

Pendidikan adalah Investasi

Siapa tidak pernah menanam, maka jangan pernah harapkan panen.

Mendidik dan Melatih

Pendidikan memang berat namun hasilnya paten dan bertahan lama. Membekali pendidikan menjamin masa depan yang lebih baik...

Mari Dorong Kesuksesan Setiap Diri

Bahagia menjadi bagian kesuksesan siapapun adalah jiwa besar. Kebesaran jiwa akan menghasilkan capaian-capaian besar berikutnya...

Setia Kepada Setiap Proses

Sukses = Suka Proses. Barangsiapa berproses dan mencintai prosesnya, maka ia akan makin dekat dengan capaian impiannya..

Kamis, 24 April 2014

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 19 April 2014

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 25 Juli 2013

Mari Jadi AyahBunda Hebat bagi Anak Luarbiasa



Setiap Anak adalah Juara
Oleh : Shinta, S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda Cinta)

Suatu siang di sebuah arena perlombaan tentang kegemaran membaca, dikemas dalam suatu event “Raja dan Ratu Buku Tingkat Propinsi” …….., nama sebuah sekolah disebut beberapa kali dalam setiap kategori, hingga akhirnya …..”dan juara umum diraih oleh…. Sekolah Dasar Bla bla bla…. Yogyakarta…” Seketika ruangan membahana dengan gemuruh tepuk tangan ungkapan syukur dan kebahagiaan.
            Alhamdulillahirobbil’alaminnn…., segala puji bagi Allah yang telah banyak sekali memberikan banyak karunia kepada kita semua. Syukur tak terhingga kepada Allah yang senantiasa menguatkan anak-anak kami dalam setiap lomba, baik mewakili pribadi maupun mewakili sekolah. Jangankan sebagai peserta perlombaan, sebagai supporter ataupun penonton ataupun hanya mendengar berita tentang kemenangan sekolah kitapun rasanya sudah sangat membanggakan. Tetapi dalam setiap perlombaan, selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Itulah permainan, harus ada yang dimenangkan dan harus ada yang dikalahkan pula. Nah dalam proses belajar, setiap anak adalah juara, apakah maksudnya?? Mari kita bahas bersama-sama yukkk….
            Setiap anak manusia lahir sebagai pemenang. Benih janin yang tumbuh dan berkembang dalam rahim Ibu adalah dari bibit terbaik, yang berhasil mengalahkan ribuan benih lain dari sel seorang pria, lalu bertemu dengan sel telur seorang wanita. Jadi sejak di dalam kandungan pun, kita ini sudah terbiasa berkompetisi, lalu lahir sebagai bibit unggul yang punya banyak potensi.
            Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, memiliki banyak kelebihan, di antaranya kemampuan berfikir (ulil albab). Tinggal bagaimana setiap orang saja lah berusaha mengoptimalkan setiap potensinya. Allah sungguh Maha Adil. Ketika seorang manusia diberi cobaan memiliki kekurangan di salah satu panca indera, maka Allah melebihkan potensi indera nya yang lain. Misalnya, seorang yang buta artinya tidak dapat melihat. Tetapi Allah melebihkan padanya pendengaran yang kuat, atau melebihkan tajamnya mata hati mereka sehingga mampu merasakan warna-warni sekelilingnya.
            Ayo segeralah kita bercermin, untuk segera menghitung-hitung, berapa nikmat Allah begitu lengkapnya yang sudah diberikan kepada kita, tetapi mengapa sampai sekarang belum atau tidak digunakan secara optimal. Tengoklah para juara-juara di setiap perlombaan, mereka punya kaki, tangan, mata, telinga, yang jumlahnya sama dengan yang kita miliki, tetapi mengapa diri ini masih saja santai tak melakukan apa-apa,,,,
            Dalam psikologi, dikenal adanya Teori Hierarki Kebutuhan, yang lebih dikenal dengan teori Maslow. Teori Maslow menyatakan kebutuhan manusia yang paling rendah adalah kebutuhan biologis seperti makan dan minum, sedangkan kebutuhan yang paling tinggi adalah kebutuhan untuk mendapat penghargaan dan mengaktualisasikan diri. Salah satu aspek dalam penghargaan dan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk berprestasi. Kaitannya dengan anak-anak kita di sekolah, tugas orangtua dan guru lah yang senantiasa tak bosan untuk memberikan motivasi dalam berprestasi.
            Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi Ekstrinsik.
1.      Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.      Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Grafik motivasi berprestasi setiap anak naik turun dengan dinamika yang berbeda-beda. Bagi anak yang sudah matang, grafiknya lebih stabil, tetapi bagi anak yang belum matang kondisi psikologisnya, maka diperlukan peran lebih dari orangtua dan guru untuk senantiasa memotivasinya. Jangankan anak-anak yang memang masih muda belia, bahkan para orang dewasa pun sering sekali memerlukan motivasi dari oranglain untuk senantiasa semangat menghadapi tantangan.
Ayolah para orangtua, teruslah semangat menjadi penyemangat anak-anak. Seyogyanya, tak ada kata bosan dalam terus memotivasi anak. Sejatinya, tak ada anak yang dilahirkan bodoh, hanya kitalah para orangtua yang masih belum cerdas dalam menemukan kelebihan anak-anak kita. Hargailah setiap anak yang telah berkompetisi melawan ego dan rasa tidak percaya dirinya sendiri, melawan rasa malu dan sejenisnya. Dan ketika mereka berhasil mengalahkan rasa malas untuk mau bangkit, maka saat itulah mereka telah menjadi pemenang.
Buat anak-anak, tak ada alasan untuk tidak maju ya, tak ada alasan untuk tidak berprestasi, lakukanlah yang terbaik dari setiap diri kalian, tak ada alasan untuk minder. Kalian bisa terus bersaing dan berkompetisi dengan seluruh teman-teman dari negri ini, bahkan di luar negri sekalipun, tak perlu pusing memikirkan peringkat atau juara berapa yang akan diraih, tapi memaknai indahnya proses perjuangan kalian itulah yang lebih utama. Kalian tentu akan memanen dari apa-apa yang kalian pernah tanam. Percayalah Nak, kami para orangtua dan juga guru, sangat bangga pada kalian semua, karena setiap dari kalian adalah….Juara…..

Penulis adalah Alumni Magister Psikologi
Universitas Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda Cinta Parenting Centre
(www.bundacinta.com)

Selasa, 13 November 2012

Refleksi Hari Pahlawan 10/11/12


Jiwa Kepahlawanan Pada Anak, Tanggungjawab Siapa ?
Oleh : Shinta. S.Pd., M.Si., M.A.
(Bunda Cinta) *

“Sudirman boleh sakit, tapi Panglima tak boleh sakit”, demikian kalimat pertama yang terucap darinya, seorang Ibu yang sangat lembut, dengan mata berkaca-kaca beliau menceritakan semangat, sifat dan perjuangan Panglima Besar Jendral Sudirman semasa hidupnya. Ya, beliau adalah Ibu Tejaningsih, salah seorang cucu dari Pangsar Sudirman, saya mengenalnya ketika bersama-sama mengisi suatu seminar bertema “Pentingnya Menanamkan Jiwa Kepahlawanan Pada Anak”. Ayah beliau adalah putera pertama Sang Jendral Besar. Menurutnya, cerita kesederhanaan dan kebesaran jiwa Pak Dirman bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dan guru yang ingin menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak. Pangsar Sudirman adalah pribadi yang sangat bersahaja dalam mendidik putra-putrinya.
Jiwa kepahlawanan seyogyanya bisa dimiliki oleh setiap orang, bisa ditumbuhkan pada diri seorang anak, bahkan ketika usianya masih dini. tidak hanya sebatas pada makna sempit seorang ‘pahlawan’. Mungkin sebagian besar anak-anak mengira bahwa pahlawan adalah beliau-beliau yang mendapatkan kesempatan untuk membela kemerdekaan bangsa ini. Padahal, setiap orang adalah pahlawan, minimal bagi diri dan kehidupannya sendiri. Dalam makna yang lebih luas, jiwa kepahlawanan dapat diasosiasikan sebagai sebuah rasa atau sikap yang menunjukkan daya juang yang tinggi. Tumbuh bersamanya adalah sikap tangguh, disiplin, mandiri, tanggungjawab, bangga dan cinta tanah air, saling menghormati, empati pada sesama, giat bekerja, rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya, dan sebagainya.
            Menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada anak adalah tanggungjawab bersama antara semuap pihak, baik dari orangtua, guru, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Diumpamakan anak adalah seperti sebuah spon atau busa, yang akan meresap informasi disekitar dengan cepat dan sesuai daya tampung. Satu hal yang menjadi syarat untuk menumbuhkan jiwa kepahlawanan pada diri anak adalah tumbuhkan dulu rasa tersebut pada diri kita sebagai orang dewasa di sekeliling anak. Bagaimana mungkin kita akan menolong oranglain yang akan tenggelam kalau diri kita ini tak mampu berenang. Filosofinya adalah bagaimana mungkin kita berharap memiliki anak yang berjiwa pahlawan sementara nilai-nilai tersebut tak ada pada diri kita.
            Jiwa kepahlawanan dapat diasumsikan juga memiliki rasa nasionalisme. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh orangtua dan guru dalam menanamkan nilai nasionalisme, misalnya sejak dini mengenalkan tentang status kebangsaan atau warganegara, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, mencintai budaya-budaya bangsa dan sejenisnya. Termasuk di dalamnya dapat melalui pengenalan lagu-lagu daerah atau dongeng cerita rakyat, tarian, film, acara televisi dan sejenisnya. Sudah sangat baik belakangan ini telah hadir film untuk anak-anak bertema nasionalisme, tapi rasanya jumlahnya masih sangat jauh di bawah derasnya gempuran film atau komik dari luar negeri. Ketika anak-anak ditanya tentang tokoh heroik idolanya, bisa dipastikan akan muncul nama-nama tokoh dari luar Indonesia dibandingkan tokoh-tokoh negeri ini. Nasionalisme pada anak tidak hanya sebatas pada hal-hal seremonial, tetapi lebih kepada pembiasaan hidup sehari-hari sehingga dapat merasuk ke dalam hati dan jiwa.
            Lalu dimanakah wajah ini akan kita sembunyikan, jika setiap hari yang dilihat anak di rumah adalah contoh tingkahlaku yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme atau kepahlawanan, lagu-lagu dengan syair berbahasa asing, demam tarian negara tetangga, belum lagi dengan gaya dandanan dan barang-barang bermerk asing yang dipakai para orangtua. Ketika berharap media dapat menolong anak-anak kita, adakah berita tentang indahnya hidup saling menolong atau makna Bhinneka Tunggal Ika, jika yang didengar dan dilihat anak-anak adalah berita tentang tawuran, pertikaian antar suku, antar agama, korupsi, saling cerca antar partai politik, dan sejenisnya. Bagaimana membentuk jiwa-jiwa yang tangguh, jika para Ayah, Bunda atau Guru mudah menyerah bahkan berputus asa, atau di antaranya ada yang berkata sedang galau atau stress. Bagaimana mengajarkan anak memiliki empati dengan sesama jika para orangtua sibuk sendiri dengan gadget-nya. Sungguh, tak ada cara yang lebih efektif dalam menanamkan jiwa kepahlawanan pada anak, selain menjadikan diri kita sebagai suri tauladan yang baik.

*Penulis adalah alumni Magister Psikologi  
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Direktur Bunda Cinta Parenting Centre

Senin, 30 Juli 2012

Memasuki Tahun Ajaran Baru...


Ayo  Sekolah  Dengan  Happy…
-----------------------------------------------------------------
Oleh : Shinta, S.Pd., M.Si., M.A. (Bunda Cinta)

“Whuaaa besok sudah hari senin, harus sekolah lagi deh..”
“Hmmmm capek ya harus sekolah terus, aku sudah bosan sekolah…”
“Mama, hari ini aku ngga sekolah yaaa, perutku sakit, kepalaku pusing…”

Hmmm contoh-contoh kalimat di atas mungkin sering sekali kita dengar dari mulut anak-anak kita atau anak-anak usia sekolah pada umumnya. Ada satu makna yang dapat kita tangkap dari berbagai macam kalimat tersebut, bahwa sebagian besar anak-anak kita ternyata tidak senang dengan ‘sekolah’, karena menganggap kegiatan sekolah merupakan suatu beban yang memberatkan, sehingga anak-anak sering mencari seribu satu alasan agar bisa terhindar dari beban-beban tersebut.

‘Sekolah’ berasal dari kata schoole atau skolai (bahasa yunani) yang berarti ‘taman’. Karena itulah sekolah di Indonesia pada zaman Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Taman Siswa. Jika kita membayangkan sebuah taman, tentu akan hadir sebuah pemandangan yang indah, penuh dengan bunga-bunga, rumput hijau, kupu-kupu, gemericik air, atau juga hembusan angin yang sejuk. Jika sedang berada di sebuah taman, tentunya serasa tak ingin pergi meninggalkan taman tersebut, ingin berada berlama-lama di dalamnya. Nah, tentunya begitulah suasana yang diharapkan oleh para pejuang pendidikan kita tentang makna dari sekolah (taman) tadi. Seyogyanya sekolah sebagai sebuah taman, anak-anak yang berada di sekolah semestinya semua memiliki rasa nyaman, senang, happy, dan ingin terus berlama-lama ada di dalamnya.

Lalu sudahkah sekolah anak-anak kita sekarang cukup layak jika disamakan dengan suasana sebuah taman..?? Jawabannya mungkin bervariasi, tetapi dari banyak kasus yang ditemui, dapatlah dianalisis sebuah fenomena sebagai berikut. Keberhasilan suatu proses pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain, diri siswa, orangtua / keluarga, lingkungan sekolah, dan system (kurikulum). Ketika kita tak punya kewenangan untuk turut serta dalam penentuan kebijakan pendidikan (alias menyusun kurikulum), maka tak perlu berkecilhati untuk tak bisa aktif dalam mewujudkan mimpi anak-anak sesuai harapan kita. Yang pertamakali harus dilakukan adalah merubah konsep diri pribadi setiap orangtua, yaitu cara pandang terhadap pendidikan seyogyanya dikembalikan ke dalam koridornya, yaitu bahwa sekolah sebenarnya adalah untuk mencari ilmu, tidak semata-mata hanya mencari nilai. Ketika sebagian besar orangtua tahu bahwa beban pendidikan anak-anaknya di sekolah tidaklah ringan, maka menjadi tidak bijaklah para orangtua ketika setiap hari justru menambah beban pada diri anak-anak, misalnya dengan memberikan standar / target yang tinggi terhadap pencapaian nilai anak-anak, atau memberikan tambahan les yang luar biasa banyaknya kepada anak-anak. Semestinya setiap orangtua tahu kapasitas dan kemampuan anaknya, tidak perlu memaksanya. Hal ini dapat tercapai jika terjadi komunikasi yang baik dan efektif antara anak dan orangtua. Dengan komunikasi yang baik, antara anak dan orangtua masing-masing bisa mengungkapkan pendapat dan keinginannya beserta alasan-alasannya, sehingga dapat dicari jalan tengah yang tidak ada unsur paksaan sama sekali. 

Jika orangtua sudah bisa cerdas menemukan cara atau trik dalam mengetahui kemauan dan kemampuan anaknya, maka seyogyanya anak-anak sudah tidak perlu lagi bosan menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja dari orangtuanya setiap pulang sekolah, misalnya:
Tadi dapat nilai berapa di sekolah?
Tadi ulangannya salah berapa?
Ayo ada PR apa untuk besok, sore ini ngga usah main….
dst pertanyaan-pertanyaan sejenis….

Happy atau gembira adalah kata kunci yang tak bisa ditawar lagi bagi anak yang ingin berhasil dalam pendidikannya. Ketika rasa happy tak tercapai, maka tak ada gunanya bicara lebih jauh tentang sekolah. Apalah artinya mendapat nilai sepuluh setiap hari, jika anak belum merasa happy, bahkan merasa tersiksa atau tertekan. Rasa happy juga bisa menjadi kunci pembuka bagi anak yang ingin meningkatkan kualitas dirinya. Selain memiliki nilai akademik yang baik, anak yang happy bisa melatih kecerdasan emosionalnya dengan saling ber-empati terhadap kesulitan oranglain, happy juga bisa menjadi landasan anak untuk selalu tampil berani, percaya diri dan mandiri.

Guru-guru harus cerdas menciptakan suasana senang dalam kelas...

Bagaimana anak-anak akan sekolah dengan happy dan ceria jika para orang dewasa di sekelilingnya (orangtua dan guru) justru berperan dalam menciptakan ketakutan dan kecemasan dalam menjalani hari-hari di sekolah. Dengan cara yang cerdas, seharusnya orangtua dan guru bisa mencari cara agar sekolah bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat disenangi anak-anak, diidam-idamkan dan selalu ingin sekolah. Sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak jika dibuat senyaman mungkin. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan nyaman dan hati yang gembira, maka tentu akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka marilah Ayah-Bunda, Bapak dan Ibu Guru ciptakan suasana belajar di rumah dan sekolah layaknya suasana bermain, agar anak-anak selalu senang belajar. 

Jika masih di SD saja anak-anak sudah memiliki rasa bosan, malas atau takut pada sekolah, maka bisa dibayangkan betapa tersiksanya diri anak-anak kita dalam menjalani sisa kewajiban langkahnya dalam menempuh pendidikan. Perlu waktu berapa tahun lagi untuk senantiasa menyiksa anak dengan standar-standar yang tinggi? Ingatlah bahwa SD merupakan dasar atau fondasi bagi diri anak-anak untuk mencintai sekolah atau dunia belajar.

Buat anak-anak, ayoooo sekolah dengan hati yang happy, gembira dan ceria. Betapa beruntungnya nasib kalian yang bisa berpadu nafas dengan bangku sekolah, sementara di luar sana ada belasan, puluhan, ratusan bahkan ribuan anak hanya bisa bermimpi membayangkan manisnya suasana berbondong-bondong masuk ke kelas. Sekolah bukanlah sebuah beban, tapi sekolah sebuah proses yang bisa membantu dirimu untuk menjadi pribadi yang baik dalam banyak hal. Dengan sekolah, kalian di hari tua nanti bisa meraih apapun yang kalian inginkan. Nikmatilah segala tahapan yang dilewati sebagai untaian nada-nada merdu di hidupmu demi sebuah symphony yang indah. Melakukan kesalahan-kesalahan kecil dalam proses belajar itu wajar, yang penting semangat lagi untuk bangkit segera memperbaiki kesalahan. Yakinlah Nak, kami para Ayah-Bunda serta Bapak dan Ibu Guru adalah orang-orang yang senantiasa setia mendukungmu dan menjadi sandaran ketika tangan atau kaki kalian letih menahan beban. Ayooo sekolahhh dengan happy Nak…., berbahagialah dirimu menjadi bagian dari ‘taman’ kehidupan….

Penulis adalah Alumnus Magister Psikologi
Universitas Gadjah Mada, dan Direktur di
Bunda Cinta Parenting Centre
 (www.bundacinta.com)